Mendambakan Lebaran Bersama

Mendambakan Lebaran Bersama
Sumber :
  • Dok. Tim Media Presiden Prabowo Subianto

 

Pandangan keagamaan seperti ini diperkuat oleh fatwa Darul Ifta Mesir pada bulan Juni tahun 2022 yang menyebutkan bahwa pemerintah (ulil amri) boleh memilih salah satu dari pendapat-pendapat fikih yang beragam, untuk kemudian ditetapkan secara resmi demi mewujudkan kemaslahatan umat. Ketika ia sudah ditetapkan, wajib hukumnya bagi umat untuk mematuhinya semata-mata demi menjaga maqasid syariah dan mewujudkan kemaslahatan (i’la an lil maqasid wa tahqiqan lil mashalih).

 

Kepatuhan ini terjadi, tentu di tengah perbedaan pendapat di kalangan para ulama dan cendekiawan yang sudah pasti ada. Namun ketika Mufti Negara telah berbicara, semua akan memilih sami’na wa atha’na, kami mendengar dan kami patuh. 

 

Pandangan dan sikap keagamaan seperti ini yang seharusnya menjadi inspirasi bagi kita di Indonesia. Persatuan dan kesatuan umat adalah prioritas bersama, yang harus dijunjung tinggi di atas kepentingan lain.

 

Terkait penetapan awal ramadhan atau kapan lebaran, pemerintah harus berani bersikap, dan di sisi lain rakyat juga harus berbesar jiwa mematuhinya. Sekali lagi, ini bukan persoalan mana pendapat yang benar dan mana pendapat yang salah. Tetapi semata-mata demi menjaga kebersamaan, persatuan dan kesatuan umat. 

 

Jika pemerintah tidak berani bersikap dan di sisi lain rakyatnya masih saja enggan untuk berbesar jiwa, lebaran bersama yang didambakan itu selamanya hanya khayalan belaka.

 

Selamat Hari Idul Fitri 1 Syawal 1447 H, Mohon Maaf Lahir Bathin.

 

*) Opini ini ditulis oleh Dede Ahmad Permana, adalah dosen UIN SMH Banten dan Pimpinan Ponpes Darul Iman Pandeglang.

 

**) Segala bentuk tanggungjawab atas tulisan tersebut adalah mutlak dari penulis bukan dari Redaksi Viva Banten.