Dorong Konsep Mixed Use, Summarecon Kembangkan Kawasan Serpong CBD
- istimewa
VIVA Banten - Pemerintah mendorong pembangunan hunian dengan konsep mixed use. Dimana, adanya integrasi sari fungsi hunian komersial, ruang publik, dan fasilitas pendukung dalam satu kawasan untuk menciptakan aktivitas ekonomi yang lebih berkelanjutan.
Melihat hal itu, Summarecon Serpong mengembangkan kawasan dengan konsep mixed use di kawasan Serpong CBD. Kawasan tersebut telah dihuni lebih dari 12.000 keluarga dan didukung sekitar 2.000 unit rumah toko atau ruko, serta sejumlah fasilitas lain yang membentuk pergerakan kawasan sejak pagi hingga malam hari.
Executive Director Summarecon Serpong Albert Luhur mengatakan, dalam penguatan ekosistem tersebut akan dihadirkan The Hood sebagai kawasan komersial yang berkonsep lakeside retail neighborhood yang dikembangkan di atas lahan sekitar 10 hektare.
The Hood direncanakan mulai beroperasi pada Desember 2026 dengan menghadirkan lebih dari 50 tenant. Komposisinya mencakup F&B, pusat kebugaran, lapangan padel, bioskop, gedung pertunjukan, supermarket, fasilitas wellness, hingga konsep toko buku baru.
"Perpaduan berbagai fungsi tersebut diharapkan membentuk pola kunjungan yang lebih beragam. Aktivitas kawasan tidak hanya terpusat pada akhir pekan atau jam makan, tetapi berlangsung sepanjang hari melalui kegiatan pendidikan, olahraga, belanja, kuliner, dan hiburan," katanya.
Di tengah penguatan ekosistem itu, Summarecon Serpong juga menyiapkan Strozzi Commercial sebagai pengembangan ruang usaha terbaru di kawasan Symphonia Boulevard, Serpong CBD.
Lokasinya berada dalam satu koridor dengan The Hood dan dapat dijangkau sekitar lima menit dengan berjalan kaki. Posisi tersebut menempatkan Strozzi Commercial sebagai bagian dari jaringan aktivitas komersial yang berkembang di sepanjang Symphonia Boulevard.
Selain itu, kawasan tersebut terhubung dengan SQP Hub dan Zora SPKLU Signature. Berdasarkan data pengembang, sekitar 400 kendaraan tercatat melakukan pengisian daya setiap hari di fasilitas tersebut.
"Aktivitas pengisian daya kendaraan listrik menciptakan pola kunjungan tersendiri karena pengguna perlu menghabiskan waktu selama proses charging. Waktu tunggu tersebut membuka peluang bagi usaha makanan dan minuman, ritel kebutuhan harian, layanan personal, hingga berbagai bisnis berbasis jasa di sekitar area," ujarnya.
Menurut Albert, kombinasi fungsi hunian, pendidikan, pekerjaan, hingga rekreasi menjadi faktor penting dalam membentuk kebutuhan ekonomi di suatu kawasan.